Anda Berada di halaman : Berita » Kepemimpinan Spiritual
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.org/berita_foto/85'>Jum'at Sehat LPPKS "/> <a href='http://lppks.org/berita_foto/86'>Diklat Calon Kepala Sekolah In 1 (Sahid Jaya Solo)</a> <a href='http://lppks.org/berita_foto/87'>LPPKS Appreciation 2013</a>
Prev Next

Polling

Bagaimana pendapat anda dengan diberlakukannya kurikulum 2013 sebagai sarana perubahan pendidikan yang lebih baik di indonesia ?




Kepemimpinan Spiritual
Kategori : Kepala Sekolah Oleh : administrator Ditulis : Rabu, 23 Januari 2013 Hits : 741
I.       Pendahuluan.
Istilah kepemimpinan telah banyak kita kenal, baik secara akademik maupun sosiologik. Jika dikumpulkan, ada sedikitnya 60 definisi kepemimpinan dalam berbagai literatur. Dari sekian banyak definisi yang ada pada intinya menganggap bahwa dalam kepemimpinan selalu terdapat tiga unsur yang saling mempengaruhi: pertama, pemimpin yang menjalankan peran kepemimpinan; kedua, pengikut yaitu sekelompok orang yang mengikuti; dan ketiga, adanya situasi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi antara pemimpin dan orang yang dipimpinnya dalam rangka mencapai suatu tujuan. Adapun kepemimpinan spiritual (spiritual leadership), menurut Dr. Tobroni dalam “The Spiritual Leadership,…” (2005), adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi keilahian. Tuhan adalah pemimpin sejati yang mengilhami, mempengaruhi, melayani dan menggerakkan hati nurani hamba-Nya dengan sangat bijaksana melalui pendekatan etis dan keteladanan. Karena itu kepemimpinan spiritual disebut juga kepemimpinan yang berdasarkan etika religius dan kecerdasan spiritual, mendasarkan pada iman dan hati nurani.

 

Ada dua model kepemimpinan spiritual yaitu kepemimpinan spiritual substantif dan kepemimpinan spiritual instrumental. Pertama, kepemimpinan spiritual substantif, yaitu kepemimpinan spiritual yang lahir dari penghayatan spiritual sang pemimpin dan kedekatan pemimpin dengan realitas Ilahi dan dunia Ruh. Model kepemimpinan spiritualnya muncul dengan sendirinya dan menyatu dalam kepribadian dan perilaku kesehariannya dan karena itu bersifat tetap. Kedua, kepemimpinan spiritual instrumental, yaitu kepemimpinan spiritual yang dipelajari dan kemudian dijadikan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan spiritualnya muncul karena tuntutan eksternal dan menjadi alat atau media untuk mengefekifkan perilaku kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan spiritual instrumental bersifat tidak abadi dan sekiranya konteks kepemimpinannya berubah, maka gaya kepemimpinannya bisa jadi berubah pula. Gaya kepemimpinan ini bisa juga muncul sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan baik permasalahan internal sang pemimpin itu sendiri maupun permasalahan eksternal.
Gaya kepemimpinan spiritual tidak hanya cocok diterapkan pada nobel industry (industri pengemban misi mulia), seperti lembaga-lembaga sosial non profit: sekolah, rumah sakit, masjid, LSM, ormas, dsb., tetapi juga cocok untuk diterapkan di lembaga-lembaga bisnis. Belakangan ini banyak pakar menulis, bahwa aspek spiritual menjadi penyumbang terbesar keberhasilan seseorang dalam hidupnya, termasuk di dalamnya kecerdasan spiritual (SQ), yang menurut Danah Zohar dan Ian Marshall (SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence, 2000), memiliki andil 80 % dalam kesuksesan karir seseorang; dan kepemimpinan spiritual, yang menurut hasil penelitian Ian Percy (Going Deep: Exploring Spirituality in Life and Leadership, 2003), para direktur dan Chief of Excutive Officer (CEO) yang efektif dalam hidup dan kepemimpinannya memiliki spiritualitas yang tinggi dan menerapkan gaya kepemimpinan spiritual. Gaya kepemimpinan spiritual dalam membangun budaya organisasi dapat dilakukan dengan empat langkah: (1) niat yang suci, yaitu membangun kualitas batin yang prima dalam memimpin. Dengan kualitas batin yang prima, komunitas organisasi akan memiliki perhatian penuh dan istiqomah dalam berkhidmat pada tugas masing-masing. (2) mengembangkan budaya kualitas dengan cara membangun keyakinan inti (core believe) dan nilai inti (core values) kepada komunitas organisasi bahwa hidup dan kerja hakekatnya adalah idadah kepada Allah, maka harus dilakukan dengan sebaik-baiknya . (3) Mengembangkan persaudaraan sesama anggota komunitas, sehingga kerjasama, sinergi antar individu dan kelompok/unit dalam organisasi dapat tercipta untuk memberdayakan potensi dan kekuatan secara maksimal. (4) mengembangkan perilaku etis dalam bekerja melalui pembudayaan rasa syukur dan sabar dalam mengemban amanah. Untuk mengefektifkan proses organisasi dapat dilakukan dengan pendekatan etis, pemakai gaya kepemimpinan spiritual harus menjadi: (1) murabbi (penggembala) dalam mengembangkan kepemimpinan dan tanggung jawab; (2) penjernih dan pengilham dalam proses komunikasi dan inovasi; (3) ta’mir (pemakmur) dalam mensejahterakan bawahannya; (4) enterpreneur dalam kiat-kiatnya mengembangkan usaha; dan (5) pemberdaya dalam mengembangkan kepemimpinan bagi bawahannya dan mengkader pemimpin baru yang lebih baik.
Gaya kepemimpinan spiritual tidak apriori dan menolak gaya kepemimpinan lainnya seperti kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional, melainkan bersifat menyempurnakan. Penyempurnaan itu terutama atas tiga hal: pertama, landasan epistemologi (teori ilmiah) kepemimpinan bersumber dari nilai-nilai etis (etika riligius) yang diderivasi dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan kata lain, kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan dalam nama Allah (bismillah). Maka rujukan etik sebagai landasan perilaku kepemimpinannya bersumber dari sifat-sifat Allah, seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), maka seorang pemimpin harus menebarkan sifat kasih dan sayang kepada bawahannya, dst. Kedua, landasan ontologis (hakekat apa yang dikaji) adalah bahwa kepemimpinan itu amanah dari Allah dan akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak. Dan ketiga, landasan aksiologis (segi kemanfaatan) adalah bahwa kepemimpinan itu untuk kesejahteraan dengan kekuasaan, memberdayakan (empowering) umat yang dipimpin, mencerahkan pikiran, membersihkan hati, pemenangan hati nurani, dan pembebasan jiwa  menuju kehidupan yang lebih baik.
II.          Menjadi Pemimpin Kristen
John Stott mengatakan bahwa dunia masa kini ditandai oleh kelangkaan pemimpin gereja yang berkualitas. Kita dihadapkan kepada problema-problema yang berat. Banyak orang yang memperingatkan akan bahaya yang bakal menimpa dunia, terutama umat Kristen, tetapi hanya sedikit orang yang menawarkan cara-cara penangkalannya. Ketrampilan dan pengetahuan kita berlebihan, tetapi kurang dalam hikmat dan kearifan. Dengan meminjam metafora Tuhan Yesus, kita ini bagaikan “kawanan domba tanpa gembala” sementara para pemimpin seringkali tampil seperti “si buta yang memimpin orang buta”.
Umat Tuhan sedang mengalami kekurangan pemimpin yang berkualitas gembala seperti yang ada pada diri Kristus. Kurangnya kepemimpinan diantara orang-orang Kristen adalah krisis yang paling gawat dari semua. Pengaruh kesalehan masyarakat Kristenlah yang menahan lajunya kuasa kejahatan di kota-kota dan bangsa-bangsa. Kurangnya para pemimpin Kristen yang rohani, efektif dan kuat sangat melemahkan kesanggupan kita untuk bertahan melawan kekuatan si jahat.
Ketika berbicara tentang asal mula pemimpin biasanya selalu berkiblat pada tiga pandangan. Ada yang mengatakan pemimpin itu dilahirkan; ada juga yang mengemukakan teori bahwa pemimpin itu dibentuk dan teori ketiga (Great event theory) yang mengatakan bahwa pemimpin itu terbentuk oleh situasi dan kondisi khusus yang menekan, namun dari tekanan masalah itu akan keluar kualitas kepemimpinan seseorang. Saya percaya, pemimpin ada yang dilahirkan dengan bakat luar biasa. Namun pemimpin yang efektif adalah orang yang bersedia digembleng dan dilatih Tuhan melalui berbagai proses kehidupan maupun pembelajaran.
Shakespeare pernah mengatakan, “Ada yang besar karena dilahirkan besar, ada yang besar karena usaha sendiri, tapi ada juga yang besar karena dipaksa oleh keadaan”. Buku-buku manajemen selalu berbicara tentang kualitas dasar pemimpin yang alami, artinya tentang pria dan wanita yang memiliki intelektual, watak dan kepribadian yang kuat sebagai bawaan. Dan berkaitan dengan kepemimpinan Kristiani, dapat ditambahkan “suatu perpaduan antara kualitas alami dan kualitas spiritual,” atau dengan kata lain kepemimpinan Kristen adalah perpaduan antara bakat alami dan pemberian spiritual. Tidak cukup sampai disitu, kepemimpinan yang potensial harus dipupuk dan dikembangkan.
Dalam mengelola gereja kerap kali mendapat kritikan; di satu sisi gereja dikelola sebagaimana maunya pendeta. Karena disebut gereja tidak boleh dikelola dengan manajeman murni. Padahal, di sisi lain, dalam konteks keberadaannya di muka bumi ini, gereja sebagai bagian dari organisasi di dunia, membutuhkan manajemen untuk mendukung pelayanan. Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasehat banyak ” (Amsal 15:22). Manajemen dalam kaitan ini dapat diartikan sebagai “suatu proses kepemimpinan yang diwujudkan dalam satu sistem kerja terpadu yang olehnya pemimpin dapat menggunakan upaya kinerja sinergis (bekerja bersama dan bekerja melalui bawahan) guna mencapai tujuan yang telah dicanangkan.
Pendeta Dr Yakob Tomatala, seorang teolog ahli manajemen mengatakan,  memanajemeni bagi seorang pemimpin berarti menjalankan proses menajemen, sehingga ia haruslah piawai mengkoordinasi, membuat perencanaan strategis, mengorganisir tugas dan menempatkan orang yang pas, dan melaksanakan upaya memimpin.
A.    Kapabilitas Kepemimpinan Kristen
Seorang pemimpin perlu memahami konsep kepemimpinan Kristen secara definitif, agar kepemimpinan menjadi lebih profesional dan spiritual. James MacGregor Burns mengatakan, "Kepemimpinan adalah salah satu fenomena yang paling banyak diamati orang dan paling sedikit dipahami di dunia ini" [1]. Vance Packed mengatakan, "Kepemimpinan adalah [cara untuk] membuat orang lain untuk melakukan sesuatu yang menurut Anda perlu dilakukan" [2].
Sementara itu Oswald Sanders mengatakan, "Kepemimpinan adalah pengaruh, kemampuan seseorang untuk memengaruhi" [3], dan Kenneth O. Gangel mengatakan, "Kepemimpinan adalah tindakan seseorang anggota kelompok yang memunyai kualitas, karakter, dan kemampuan tertentu yang pada suatu waktu tertentu, akan berhasil mengubah tingkah laku kelompoknya menuju sasaran-sasaran yang dapat diterima bersama" [4].
Walaupun definisi-definisi tersebut menjelaskan dasar-dasar pengertian tentang kepemimpinan secara umum, namun belum menyentuh pengertian mengenai kepemimpinan Kristen. Ada beberapa definisi yang lebih spesifik yang menekankan pengertian kepemimpinan Kristen, misalnya George Barna mengatakan, "Pemimpin Kristen -- sebagai seseorang yang dipanggil Tuhan untuk memimpin dengan karakter seperti Kristus dan memotivasi secara efektif -- mengerahkan sumber daya dan mengarahkan orang-orang ke penggenapan visi bersama dari Allah" [5]. Robert Clinton mengatakan, "Tugas utama pemimpin adalah memengaruhi umat Allah untuk melaksanakan rencana Allah" [6]. Sementara itu, Henry dan Richard Blackaby mengatakan, "Kepemimpinan rohani adalah menggerakkan orang-orang berdasarkan agenda Allah" [7].
Beberapa definisi di atas memberikan paradigma yang benar antara prinsip kepemimpinan umum dan prinsip kepemimpinan spiritual. Kepemimpinan Kristen tidak identik dengan seseorang, yang secara langsung dapat mengerjakan rencana Allah. Ia bisa ditunggangi motivasi dan ambisi pribadi, kecuali jika ia memahami dan menerapkan definisi-definisi ini secara komprehensif dan konsisten [8].
Perbedaan antara rumusan kepemimpinan umum dan kepemimpinan Kristen, bukan terletak pada metode, jabatan, atau kedudukan, melainkan pada panggilan, nilai, dan filosofinya yaitu kepemimpinan Kristen mencapai tingkat kepemimpinan yang lebih tinggi demi melaksanakan rencana Allah berdasarkan agenda Allah [9].
Pertama, kapabilitas kepemimpinan. Kepemimpinan berkaitan dengan pengetahuan, kompetensi, kapabilitas, dan pengelolaan sebuah pelayanan. T.Engstrom dan E.Dayton menjelaskan bahwa pemimpin harus memunyai kapabilitas yang memadai di bidang mereka, dan cakap secara teknis untuk membuktikan tingkat kemampuannya [10]. Kemampuan atau keterampilan kepemimpinan (leadership skill) merupakan kekuatan untuk memengaruhi orang-orang yang dipimpinnya [11]. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang sukses, berani membayar dan memakai orang-orang yang terampil atau orang yang memiliki kapabilitas tinggi. Andrew Carnegie, pemilik perusahaan pabrik baja yang terbesar di Amerika, mengakui bahwa pekerjaannya pada mulanya serabutan, namun setelah ia berani membayar 1 juta dolar setahun kepada Charles Schwab yang memiliki kapabilitas tinggi, akhirnya pabriknya mengalami sukses besar [12].
Dari penelitian Charles Garfield secara intensif kepada orang-orang yang berprestasi puncak, baik dalam bidang olahraga, ilmiah, maupun bisnis, kebanyakan mereka memunyai kemampuan visualisasi, memiliki fokus pada sasaran, dan proaktif dalam bidangnya [13]. Pimpinan merupakan tumpuan dari sebuah organisasi dan pengikutnya, dan berhasil atau tidaknya kepemimpinan seseorang, sangat bergantung pada kelebihan kemampuan/kapabilitas yang ia miliki. Kelebihan dalam menggunakan segala ilmu organisasi, mendayagunakan sumber daya dengan maksimal, serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat [14].
Kepemimpinan yang berhasil adalah kepemimpinan yang mengoptimalkan seluruh kemampuan atau kapabilitasnya, untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain dalam melakukan satu usaha mencapai sasaran yang sudah direncanakan [15]. Karena itu, korelasi antara kepemimpinan dan kapabilitas tidak boleh dianggap remeh. Tanpa kedua unsur tersebut, maka organisasi tidak akan menjadi efektif. Pemimpin harus meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa ia memiliki kapabilitas memimpin, memengaruhi, mengendalikan, dan mengarahkan orang yang dipimpinnya [16].
Kedua, kemampuan berorganisasi. Kemampuan memimpin harus disertai dengan pemahaman dan penguasaan organisasi yang memadai [17]. Peter M. Sange dan Art Klener mengatakan, "Seorang pemimpin harus terus-menerus berusaha mengembangkan kemampuan melalui peningkatan pemahaman dan pengetahuan organisasinya untuk memperbaiki cara kerja, agar mampu mencapai organisasi secara maksimal" [18]. Esensinya adalah agar pemimpin dapat menciptakan kinerja yang efektif sesuai tugas, wewenang, dan tanggung jawab setiap individu untuk mencapai maksud bersama. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi tumpang tindih, vakum, kacau, atau tidak terarah, sebaliknya dapat mengoordinasi setiap potensi secara efisien ke arah satu titik [19], sehingga pekerjaan tidak tertumpuk di satu tangan, melainkan melalui pengorganisasian tercipta spesifikasi dan profesionalisme yang menguntungkan organisasinya.
Pada dasarnya pengertian organisasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu organisasi dalam arti statis dan organisasi dinamis [20]. Organisasi statis (tidak bergerak/diam) adalah organisasi yang dipandang sebagai jaringan dari hubungan kerja yang bersifat formal, seperti yang tergambar dalam suatu bagan dengan mempergunakan kotak-kotak yang beraneka ragam [21]. Bagan struktur organisasi ada banyak macam dan jenjang. Bentuk dan jenjang apa pun, posisi pimpinan selalu berada paling atas, sedangkan kotak semakin kecil, jenjang posisinya semakin rendah.
Kotak-kotak tersebut memberikan gambaran-gambaran tentang kedudukan atau jabatan yang harus di isi oleh orang-orang yang memenuhi persyaratan sesuai dengan fungsi masing-masing. Melalui bentuk organisasi ini dapat diketahui hierarki kedudukan atau jabatan, garis komando, wewenang, dan tanggung jawab [22]. Sedangkan organisasi dinamis adalah sebuah organisasi yang hidup dan organisme yang dinamis. Tidak hanya di lihat dari segi bentuk dan wujudnya, tetapi juga dari segi isinya, yaitu menyangkut sekelompok orang melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, organisasi dinamis menyoroti unsur manusia yang ada di dalamnya karena manusia merupakan unsur terpenting dari seluruh unsur organisasi, dan hanya manusia yang memiliki sifat kedinamisan.

B.     Kehidupan Spiritual dalam Kepemimpinan Kristiani

Semua orang kristen sesungguhnya memerlukan 'makanan dan perawatan'yang utuh dan menyeluruh atau holistik. Makanan dan perawatan jasmani dan rohani, secara material maupun spiritual. Para pemimpin kristen yaitu para pendeta, penatua,guru sekolah minggu, pengurus komisi, kelompok kerja dan semua aktifis bertugas untuk memastikan bahwa makanan dan perawatan yang diperlukan oleh jemaat Kristus itu terpenuhi, sehingga jemaat yang adalah domba-domba Kristus terpelihara. Untuk tugas tersebut, maka para pemimpin kristen harus merasa terpenuhi makanan dan perawatannya sendiri. Jika gembala tidak diberi makan seperti halnya domba-domba, maka mereka akan kelaparan, kehausan, kelelahan dan sakit. Namun bahayanya bukan hanya bagi dirinya sendiri. Apabila kelaparannya, kelelahannya dan luka-lukanya tidak diatasi, maka si gembala bisa jadi akan melakukan tindakan yang tidak ia sadari yang membahayakan orang-orang yang digembalakannya. Karena para pemimpin gereja adalah pemimpin spiritual,dalam arti bahwa setiap aktifitasnya harus dilandasi dan digerakkan oleh dorongan spiritual, maka pembiaan ini akan difokuskan pada kebutuhan spiritual para gembala dan bagaimana memenuhinya.

? Kekeringan Spiritual.

Persoalan besar para pemimpin kristiani adalah persoalan kekeringan spiritual. Orang-orang yang kekeringan spiritual ini adalah orang-orang yang tidak menemukan alasan-alasan spiritual mengapa ia harus melakukan setiap bagian dalam pelayanannya. Kekeringan spiritual ini bisa membuat seseorang menjadi loyo atau ogah-ogahan. Ia tidak memiliki energi yang membuatnya berapi-api dan penuh semangat melakukan bagiannya. Atau, mereka mungkin melakukan banyak hal, namun dirinya merasakan bahwa apa yang dikakukannya itu kosong dan hampa. Pelayanan menjadi formal, rutin, kaku , dingin dan tidak melahirkan pertumbuhan, kedalaman dan kehangatan. Tidak ada vitalitas, yang ada adalah rutinitas yang membosankan dan membebani serta kehilangan makna. Flora Slosson menggambarkan kondisi kekeringan spiritual sebagai hubungan yang menjadi kering, seperti hubungan pokok anggur dan ranting-ranting yang mulai kering.

? Inti Spiritualitas Kristiani.

Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit merupakan jantung atau inti spiritualitas Kristiani. Kristus yang bangkit itulah Kristus yang menjumpai setiap murid-Nya. Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit itulah yang membebaskan mereka dari rasa bersalah, membalut luka-luka hati mereka yang kehilangan, memulihkan harapan , meneguhkan keragu-raguan dan membangkitkan keberanian mereka yang ketakutan.
Kalau kita meneliti Model perjumpaan Kristus, kita menemukan model perjumpaan yang sangat personal. Kisah-kisah perjumpaan Tuhan Yesus menunjukkan bagaimana Ia hadir, memandang langsung ke setiap orang seolah dia adalah satu-satunya yang hadir sekalipun ia berada ditengah keramaian. Apakah Yesus bertemu seorang imam, seorang anak-anak, seorang pezinah, seorang pemungut cukai, seorang nelayan, seorang yang sakit kusta atau seorang musuh, Tuhan Yesus sungguh hadir sebagai pribadi. Yesus pun memandang setiap orang yang dijumpainya sebagai pribadi, tidak lebih dan tidak kurang. Hubungan yang dibangun sungguh-sungguh hubungan Aku dan Engkau. Tuhan mungkin lebih daripada pribadi namun Tuhan Yesus tidak mungkin kurang dari pribadi.
Kita dapat menjadi lebih sensitif atau peka menanggapi kehadiran Kristus melalui banyak cara. Kehidupan doa yang teratur atau bersaat teduh dimana kita menarik diri dan mencoba menghayati kehadiran Kristus melalui setiap hal yang sedang kita hadapi. Mengapa harus belajar menghayati kehadiran Kristus ? Karena Allah di dalam Kristus adalah Allah yang hadir dimana-mana, Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Hakekat unik dari kekristenan tumbuh dalam perjumpaan dengan hati Allah melalui Yesus Kristus.
Ada tiga pola model kekristenan.
  1. Mengganggap kristen adalah agama tentang Yesus. Model ini mengexternalisasikan Yesus. Yesus ditempatkan diluar, semacam superman, seorang tokoh sempurna di luar sana yang kepadaNya kita tunduk. Namun model ini menggiring kita pada sikap ketaatan tanpa banyak perubahan batin.
  2. Model agama dari Yesus. Model ini menempatkan Yesus sebagai saudara tua yang ramah, seorang guru atau pembimbing. model ini membangun ketaatan sebagai usaha meniru atau mengikuti ajaran tetapi tidak memiliki hubungan personal dengan Yesus.
  3. Kekristenan adalah agama melalui Yesus. Pola ini menawarkan kepada kita ikatan yang hidup dengan Yesus; yang melaluiNya kita mengalami Allah, diri kita dan orang lain. Melalui Yesus kita mengalami Allah yang mendalam dan luar biasa. Tanpa hubungan pribadi orang percaya dengan Kristus yang hidup, kekristenan mungkin hanya akan menjadi iman atas gagasan dan cita-cita luhur namun kehilangan angin, api, garam dan raginya. Untuk mengalami kepenuhan kebutuhan spiritual, kita harus selalu berusaha memangun hubungan pribadi dengan Kristus ditengah-tengah kehidupan pelayanan kita.
? Teladan Kepemimpinan Tuhan Yesus & rasul Paulus
Yesus menunjukkan teladan kepemimpinan dengan jalan menjadi panutan, memberikan teladan kehidupan ketimbang memberikan perintah dan aturan-aturan yang memaksa. Ia senantiasa menjadikan diri dan kehidupan-Nya sebagai teladan moralitas. Tidak ada kesalahan maupun kejahatan di dalam hidup-Nya. Hidup-Nya transparan, semua orang dapat menilai dan menganalisa diri-Nya. Kepemimpinan yang ditunjukkan Yesus juga bukan hanya sekedar melalui kata-kata, namun juga disertai dengan hikmat dan wibawa ilahi. Hal inilah yang harus diperhatikan setiap orang yang ingin meniru teladan kepemimpinan Yesus. Menjadi seorang pemimpin, baik dalam kehidupan diri sendiri, keluarga, masyarakat, gereja dan lingkungan lainnya dimana kita berada, harus memiliki kuasa, hikmat dan penyertaan Tuhan. Dengan demikian maka akan dapat mencapai kesuksesan didalam memimpin.
Salah satu peranan utama dari seorang pemimpin adalah menunjukkan teladan yang baik dan kemudian melatih orang lain untuk mengikutinya. Paulus adalah seorang pemimpin besar dari gereja Tuhan di abad pertama. Dalam kitab 1 Korintus 11:1 ia menulis, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Ia berhasil memultiplikasikan kepemimpinannya dengan mencetak pemimpin-pemimpin baru yang handal. Ia berhasil mendidik Timotius menjadi pemimpin dan gembala yang handal. Timotius pun kemudian menghasilkan pemimpin-pemimpin baru di dalam gereja yang digembalakannya.
? Multiplikasi Pemimpin
Pertumbuhan dan perluasan kekeristenan terjadi sesuai dengan tersedianya para pemimpin yang berhasil guna. Myron Rush seorang pakar kepemimpinan Kristen terkemuka menceritakan pengalaman seorang rekan gembalanya.
Ted Grant ialah seorang gembala jemaat dari sebuah gereja besar, dinamis dan berkembang pesat di barat-daya Amerika Serikat. Namun ketika saya untuk pertama kalinya menjumpai Ted beberapa tahun lalu, gerejanya menghadapi berbagai masalah dan bergumul untuk mempertahankan kehadiran sekitar dua ratus jemaat pada kebaktian hari Minggu pagi. Gerejanya juga terlibat utang yang besar. Pertama kali saya bertemu Ted pada waktu seminar manajemen yang saya selenggarakan untuk para gembala jemaat dan pemimpin gereja di daerahnya.
Pada waktu itu Ted adalah seorang gembala sidang yang sedang mengalami frustasi. Karena ia merasa saya seorang luar yang dapat dipercayainya, ia menumpahkan isi hatinya kepada saya mengenai masalah untuk mendapatkan pemimpin-pemimpin yang memenuhi syarat di dalam gerejanya. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia mengalami kesukaran menerima calon-calon baru untuk memimpin gereja cabang, pimpinan departemen, anggota dewan pengurus/majelis, dan jabatan-jabatan puncak lainnya di dalam gerejanya. Selama percakapan berlangsung Ted mengatakan ‘Tampaknya saya tak dapat menemukan seseorang yang ingin berbuat sesuatu kecuali hanya duduk di kursi gereja dan menonton selagi beberapa orang dari kami melaksanakan seluruh pekerjaan.Tidaklah mengherankan bila kita mempunyai masalah. Tidaklah mungkin untuk membina sebuah gereja yang kuat tanpa adanya para pemimpin’.
Tahun lalu saya mendapat kehormatan untuk mengunjungi gereja yang dipimpin oleh Ted. Gereja itu sungguh telah jauh berbeda dari yang telah disebutkannya beberapa tahun sebelumnya. Mereka baru saja menyelesaikan tempat kebaktian yang baru dan merencanakan sebuah bangunan untuk pendidikan. Lebih dari 3000 orang menghadiri dua kebaktian pagi setiap hari Minggu. Dan departemen Misi Penginjilan mempunyai anggaran hampir 1 juta dollar AS. Setelah kebaktian berakhir saya mempunyai kesempatan untuk berbincang-bincang lama dengan Ted dan menanyakan kunci keberhasilan pertumbuhan gerejanya itu.
Ia mengatakan bahwa sejak perjumpaan dengan saya ia mulai mengadakan program pelatihan kepemimpinan di gereja. Ia dan timnya mengajar orang-orang cara untuk menjadi pemimpin sebelum mengharapkan mereka mencalonkan diri dengan sukarela untuk memegang peranan sebagai pemimpin. Ted menjelaskan bahwa acara latihan kepemimpinan telah mencapai sesuatu yang oleh kotbah bertahun-tahun gagal untuk diperoleh. ‘Begitu kami mulai melatih anggota-anggota gereja kami tentang cara memimpin, cara mengajar dan cara mereproduksi diri mereka pada orang lain, maka kami tidak mempunyai masalah lagi untuk menemukan orang-orang yang memenuhi syarat kepemimpinan yang diperlukan oleh gereja. Sebenarnya kami telah melatih sedemikian banyak pemimpin dalam gereja kami sehingga kami telah mulai mendirikan sebuah gereja pendamping yang baru demi mempekerjakan semua tenaga pemimpin yang berlebihan itu’.
Mendengarkan pembicaraan Ted pada hari itu mengingatkan saya pada pentingnya peranan para pemimpin dalam keberhasilan dari organisasi apapun. Tanpa kepemimpinan yang tepat, maka gereja Ted bergumul untuk mempertahankan kelanjutan hidupnya, tetapi begitu mereka mulai membina para pemimpin yang efektif atau berhasil-guna maka gerejanya menjadi sebuah organisasi yang sangat berhasil. Melatih para pemimpin yang berhasil adalah rahasia keberhasilan mereka.”
? Kualifikasi Pemimpin
Dalam konsep kepemimpinan Kristiani, ada beberapa faktor utama yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin. Faktor-faktor itu adalah:
  • Visi (sense of mission)
“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat,” demikianlah dikatakan dalam Amsal 29:18. Visi adalah tujuan, sasaran, goal, arah, wahyu, mimpi yang hendak dicapai. John Stott mengatakan bahwa visi adalah suatu ihwal melihat, mendapat persepsi tentang sesuatu yang imajinatif, yang memadu pemahaman yang mendasar tentang situasi masa kini dengan pandangan yang menjangkau jauh ke depan.
Musa merupakan salah satu pemimpin besar yang mengerti benar mengenai visi. Ia berjuang keras memimpin bangsanya melawan penindasan Mesir, mengarungi padang gurun selama puluhan tahun, karena ia mendapat visi yang jelas tentang “Tanah Perjanjian”.
  • Pengetahuan dan keterampilan (knowledge-skill)
Visi harus dibarengi dengan pengetahuan yang cukup dan keterampilan. Tidak cukup bagi Musa untuk memimpikan suatu negeri yang berlimpah-limpah madu dan susunya. Ia berusaha mewujudkannya. Ia menghimpun, menyatukan dan mengatur orang Israel menjadi suatu bangsa. Ia menggunakan pengetahuan yang didapatnya selama pendidikan di Mesir dan pengalaman bersama Tuhan untuk memimpin mereka melintasi gurun yang penuh bahaya dan kesukaran sebelum akhirnya mencapai tanah Kanaan.
  • Konsistensi (Consistency)
Konsistensi merupakan salah satu kualitas kepemimpinan yang paling utama. Musa lagi-lagi merupakan teladan konsistensi yang luar biasa. Berkali-kali dalam hidupnya bangsa Israel “menggerutu” terhadap kepemimpinannya dan menentang wibawanya. Akan tetapi Musa tidak menyerah. Ia tidak lupa akan panggilan Allah kepadanya untuk memimpin bangsa itu. Ia konsisten melakukan perintah Tuhan untuk membawa bangsa itu keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan.
Yohanes pembaptis, Daniel, Daud, Yosua merupakan teladan kehidupan lainnya berkenaan dengan faktor konsistensi. Kepemimpinan mereka tidak hanya “sukses” di awal saja, namun mereka konsisten mempertahankan kualitas kerja dan kepemimpinannya sampai akhir. Konsistensi berbicara tentang ketahanan, ketekunan dan fokus yang tidak pernah berkurang atau pudar dalam meraih tujuan kepemimpinan.
  • Karakter dan Integritas  (Character and Integrity)
Kepemimpinan Kristen merupakan kepemimpinan yang berpusatkan Kristus. Tidak ada seorang manusiapun di muka bumi ini yang akan mampu menjadi pemimpin Kristen yang handal bila ia tidak lebih dulu berjumpa secara pribadi dengan Yesus dan menjadi ciptaan baru (II Korintus 5:17). Ketika seorang menghendaki untuk menjadi pemimpin yang efektif, ia harus bertumbuh secara karakter.
Lynn E. Samaan dan Dunnam, pakar kepemimpinan mengatakan, “Pemimpin Kristen menerima kehidupan Kristus dengan iman dan menerapkannya dalam komitmen, disiplin dan perilaku/perbuatan, dimana kehidupannya setiap waktu mengungkapkan Kristus yang hidup di dalamnya sebagai kesaksian kepada dunia.” Tujuan utama pengembangan karakter adalah “kualitas hidup”. Yaitu kualitas hidup rohani yang berpusatkan Kristus. Kualitas hidup ini dipengaruhi oleh pekerjaan Roh Kudus dalam semua aspek dan peristiwa hidup serta respon atau komitmen (sikap) terhadap peristiwa serta pengalaman hidup tersebut. Buah Roh akan makin terpancar dalam kehidupan sementara buah daging makin terkikis.
Salah satu karakter pemimpin Kristen yang diinginkan Yesus terlihat dalam firman-Nya, “Kamu tahu bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi…Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…(Markus 10:42-45). Panggilan kita adalah untuk melayani bukan untuk dilayani dan menguasai. Pemimpin harus melayani dan memperhatikan kebutuhan bawahannya. Memberi kesejahteraan pada mereka, sehingga bawahan akan bersemangat menopang pemimpinnya. Seperti Yesus yang mencukupi kesejahteraan murid-murid-Nya dengan menunjuk bendahara untuk mengelola keuangan. Pemimpin Kristen bukanlah pemimpin-penguasa, melainkan pemimpin-hamba. Otoritas memimpin dilakukan bukan dengan kekuasaan melainkan kasih, bukan kekerasan melainkan teladan, bukan paksaan melainkan persuasif.
Integritas berbicara tentang “apa yang dikatakan sama dengan perbuatan”. Dengan kata lain, seorang pemimpin yang sukses adalah seseorang yang kehidupannya “transparan”, luar dalam sama. Dia tidak saja menjadi teladan dalam perkataan dan kepemimpinan, tetapi juga melakukan dengan tepat semua yang dikatakannya.
Banyak kasus moralitas, korupsi dsb terjadi karena para pemimpin gagal melakukan prinsip-prinsip yang diajarkannya. Mereka hanya menjadi macan kertas atau macan panggung, namun ternyata ompong dalam melakukan perkataannya.
C.   Kesimpulan
Umat membutuhkan pemimpin yang dapat diteladani, dalam segala segi baik karakter, manajemen, pelayanan maupun mau bekerja keras untuk memimpin orang-orang. Kepemimpinan Kristen bukanlah mau memerintah, akan tetapi menjadi teladan hidup. Pemimpin sukses adalah orang yang mampu mencetak pemimpin baru, dan bukannya iri atau takut tersaingi bila bawahannya sukses.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memperhatikan bawahannya. Mencukupi kebutuhan hidupnya agar mereka dapat berkonsentrasi melakukan tugas pelayanan yang dibebankan tanpa harus dipusingkan akan persoalan makan, minum, pakai. Pantang menyerah, inovatif dan terus mengembangkan diri merupakan kualitas yang harus diperhatikan juga.
Dengan demikian, akan membuat pelayanan pemimpin itu semakin efektif dan berhasil mencapai visi yang ingin diraihnya. Wujud serta kualitas pemimpin Kristen yang ideal, diharapkan terlihat dalam kenyataan berikut: Memiliki karakter Kristus (Christlike), memiliki pengetahuan yang komprehensif – kemampuan serta ketrampilan (knowledge-skill) yang bersifat sosial (hubungan dengan orang) dan teknis (yang berhubungan dengan kerja). Memiliki konsistensi dan integritas dalam hidup dan kepemimpinannya, baik kepada kepada Allah, Gereja, pengikutnya maupun diri pribadi dan dunia serta memiliki tujuan hidup yg jelas (sense of mission) yang memberi motivasi dan dinamika bagi hidup dan pelayanannya.
Menjadi pemimpin yang baik sesungguhnya dapat dipelajari. Mempelajari teknik kepemimpinan disertai hati dan karakter Kristus akan menjadikan setiap kita pemimpin yang baik. Marilah menjadikan dunia ini lebih baik, dengan menjadi orang-orang yang memberi pengaruh positif kepada dunia.
REFLEKSI
Di dalam kepemimpinan spiritual ini, ada ajakan, dorongan, himbauan, bagi orang lain untuk mencapai tingkat spiritual yang serupa. Dengan tingkat spiritual itu, orang dapat melakukan hal-hal yang secara esensial serupa dengan teladan yang diberikan oleh sang pemimpin, walau dalam konteks yang berbeda.
Jabatan gerejawi atau tugas kepemimpinan adalah terutama pemberian Tuhan, bukan “pencapaian” baik melalui pendidikan formal maupun keahlian yang lahir dari pengalaman, walaupun semuanya itu penting. Para pemimpin yang disebut di dalam Alkitab lebih menekankan peranan “hati” ketimbang keahlian dan pengalaman. Pelayanan bukan keikutsertaan, bukan pengalihan dari Yesus.
Inti dari pelayanan adalah; dasar pelayanan adalah Karakter, Sifat pelayanan adalah Pengabdian. Motif pelayanan adalah Kasih. Ukuran pelayanan adalah Pengorbanan. Kekuatan pelayanan adalah Penyerahan diri. Hanya dengan demikian seorang pemimpin dapat memiliki visi dan misi dari Yesus. Jika tidak, pemimpin hanyalah menciptakan visi dan misinya sendiri.
Samuel adalah anak Elkana, seorang yang saleh dari bani Efraim, dengan istrinya yang bernama Hana. Nama Samuel disebut sebanyak 134 kali dalam Alkitab, bisa ditemukan dalam 7 kitab: 1 Samuel, 1 dan 2 Tawarikh, Mazmur, Yeremia, Kisah Para Rasul, dan surat Ibrani.
Alkitab mencatat Samuel sebagai hakim terakhir dan terbesar dalam sejarah Israel (Kisah Para Rasul 13:20). Samuel juga merupakan yang pertama di antara para nabi (Kisah Para Rasul 3:24). Pada zaman Perjanjian Lama, ia dan Musa adalah dua pemimpin bangsa yang terbesar di mata Tuhan (Yeremia 15:1).
Otoritas kepemimpinan dalam diri Samuel sebenarnya mulai Tuhan nyatakan sejak dia masih muda. Tuhan memberinya pewahyuan yang menyingkapkan kejatuhan imam Eli (1 Samuel 3:1-21). Meskipun semula sungkan, akhirnya Samuel menyampaikan nubuatan itu kepada Eli (1 Samuel 3:18). Kepemimpinan nabi Samuel terus berkembang dan semakin diakui banyak orang, Alkitab mencatat: "Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan." (1 Samuel 3:20)
Dengan wibawa kepemimpinannya yang besar, Samuel menyerukan tobat nasional. Samuel berbicara kepada seluruh kaum Israel: "Jika kamu berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada Tuhan dan beribadahlah hanya kepada-Nya." (1 Samuel 7:3) Bangsa itu pun bertobat, mereka menjauhkan berhala-berhala Baal dan Asytoret (1 Samuel 7:4).
Samuel adalah seorang pemimpin yang profesional; ia menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Sebagai kepala urusan-urusan sekuler, Samuel berkeliling negeri untuk mengadili seluruh rakyatnya (1 Samuel 7:16).
Samuel adalah pemimpin yang terbuka terhadap kritik. Ketika rakyat Israel meragukan integritas anak-anak kandungnya, Samuel tidak mengelak (1 Samuel 8:4-5). Samuel bukan tipe pemimpin yang terjerat nepotisme. Samuel menampung aspirasi rakyat yang menghendaki raja baru. Ia pun sangat proaktif dalam pergumulan pencarian pemimpin baru tersebut. Sebagai tokoh senior, Samuel jugalah yang akhirnya menetapkan dan mengurapi raja baru tersebut, Saul -- dan kemudian Daud.
Kehidupan Doanya
Spirit doa dalam diri Samuel merupakan warisan dari ibunya. Pada waktu itu Hana mandul, tidak bisa memunyai anak (1 Samuel 1:2, 5-6). Hana berdoa dengan sungguh-sungguh, dan akhirnya setahun setelah doa itu, Tuhan memberinya seorang anak yang hebat, Samuel. (1 Samuel 1:20).
Dalam penelitian psikologi, ditemukan fakta bahwa pertumbuhan kejiwaan seseorang sudah dimulai sejak dia dalam kandungan ibunya. Kondisi kejiwaan ibu juga menentukan pertumbuhan psikis sang bayi. Demikian juga secara rohani, kehidupan rohani sang ibu akan mengalir dalam diri anak yang dikandungnya. Yohanes Pembaptis misalnya, sudah dijamah Roh Kudus ketika ia masih berada di dalam kandungan ibunya, Elizabet (Lukas 1:41).
Kehidupan doa Samuel juga terbina baik sejak masa kanak-kanaknya. Setelah Samuel berhenti menyusu, pada usia 2 atau 3 tahun, Hana membawanya ke Silo dan secara resmi menyerahkannya kepada imam Eli untuk tinggal bersama dia di lingkungan Bait Suci (1 Samuel 1:24-28). Samuel menjadi pelayan di hadapan Tuhan; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan (1 Samuel 2:18). Sejak belia, Samuel hidup dalam disiplin rohani yang tinggi. Ia tinggal di dalam lingkungan orang-orang yang berdoa.
Pembentukan kehidupan rohani seorang pemimpin tidak terjadi secara instan. Karena itu, kita perlu mendidik kaum muda dalam disiplin rohani yang tinggi. Kelak, ketika mereka beranjak dewasa dan menjadi pemimpin, kehidupan doa pribadinya akan sangat kuat. Tetapi, jika seseorang yang kehidupan doanya lemah telah menjadi pemimpin dan menjadi sangat sibuk karena status dan perannya itu, tidak akan mudah baginya untuk bertumbuh dalam kehidupan doa. Bahkan kadang ia meremehkan doa, sebab pikirnya, tanpa doa pun saya sudah menjadi pemimpin.
Kehidupan doa Samuel bersifat dinamis dan dialogis. Alkitab tidak mencatat bagaimana ia mengemis dalam doanya, minta ini dan itu untuk keperluan hidupnya. Alkitab justru mencatat bagaimana Tuhan berbicara kepadanya sejak ia masih remaja (1 Samuel 3). Samuel disebut sebagai seorang pelihat yang sering memperoleh penglihatan dari Tuhan (1 Samuel 9:9).
Di manakah Samuel-Samuel masa kini? Sekarang banyak orang cerdas, cendekia, dan terlatih menjadi pemimpin sejak masa muda, tetapi masih terlalu sedikit pemimpin Kristen yang memunyai kehidupan doa yang kuat.
Bersandar Pada Tuhan.
Ketika Samuel sudah tua, rakyat memintanya untuk memilihkan seorang raja bagi mereka. Saat itu, Samuel harus memilih salah seorang dari sekian banyak orang Israel untuk diangkat menjadi raja atas bangsa itu. Seorang pemimpin akan selalu diperhadapkan dengan situasi harus memilih seseorang untuk posisi tertentu. Seorang pendeta harus memilih pemimpin-pemimpin kelompok sel, seorang direktur harus menunjuk manajer-manajer bawahannya, dan sebagainya.
Sebelum memilih seorang raja, Samuel mau menampung aspirasi para tua-tua Israel (1 Samuel 8: 4-5). Keluh kesah mereka sebenarnya mengesalkan hati Samuel, tetapi kemudian ia berdoa membawa persoalan ini kepada Tuhan (1 Samuel 8:6). Keinginan jemaat atau anak buah dan karyawan tidak jarang membuat sang pemimpin menjadi kesal, apalagi jika mereka mengajukan permohonan dengan emosional, misalnya dengan berdemo. Tetapi, seorang pemimpin Kristen harus menjaga suasana hatinya, dan membawa setiap persoalan itu di dalam doa.
Samuel akhirnya menyetujui keinginan rakyatnya karena Tuhan memberi rekomendasi. Kadang, seorang pemimpin Kristen menerima permintaan bawahan karena takut atau karena alasan politis. Tetapi, keputusan Samuel selalu berdasar pada pertimbangan dari Tuhan. Pun ketika memilih Saul, juga atas dasar petunjuk Tuhan sendiri (1 Samuel 9:15-16). Ketika raja Saul melakukan banyak kesalahan dan akhirnya Tuhan menolaknya, Samuel sempat bersedih. Tetapi kemudian Tuhan berkata: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul?" (1 Samuel 16:1a) Tuhan, tidak senang jika kita larut dalam kekecewaan, kepahitan, dan kesedihan karena orang pilihan kita gagal. Dalam ayat itu, Tuhan menyuruh Samuel mengurapi Daud menjadi raja yang baru. Pada waktu memilih Daud, Tuhan berbicara kepada Samuel agar jangan terkecoh oleh penampilan fisik (1 Samuel 16:7). Inilah pentingnya doa, supaya kita jangan salah memilih. Orang yang hebat secara fisik belum tentu dipilih Tuhan. Tuhan tahu orang yang tepat dan yang sempurna bagi kita. Ikutilah pimpinan Roh Kudus!
Akhirnya, Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya (1 Samuel 16:13a). Artinya, orang-orang yang sudah kita pilih menurut hikmat Tuhan, harus kita doakan agar ia memunyai otoritas untuk menjalankan pekerjaan baru yang diembannya. Pemimpin Kristen perlu menaikkan doa impartasi urapan untuk anak buah atau penerusnya.
Pemimpin yang Mendengar
Salah satu ciri utama dari seorang pemimpin yang baik adalah mendengarkan Allah. Jika kita hanya bergantung pada hikmat, kekuatan, wawasan, atau tindakan kita, maka kita tidak akan mampu. Kita perlu firman Tuhan. Daud, seperti yang bisa kita lihat dalam 1 Samuel, adalah seorang pemimpin yang saleh, yang dengan gigih mencari dan menerima nasihat Allah untuk mengambil keputusan penting dan terkadang hidupnya bergantung pada apa yang didengarnya dari Allah.
Hal ini mungkin kedengarannya mudah. Namun jika ini benar-benar mudah, mengapa kita mengabaikannya? Sesungguhnya kita sudah mendapat pewahyuan dari Tuhan yang ditulis dalam bahasa kita, ditulis oleh orang-orang yang digerakkan oleh Roh Kudus, dan celakalah kita jika kita tidak mendengarkan firman Tuhan, baik di rumah, di gereja, maupun di tempat kerja kita. Seberapa sering kita berkata, "Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu mendengar"?
Pemimpin yang Menegur
Kita juga bisa belajar dari Samuel bahwa seorang pemimpin yang saleh tidak takut mengatakan apa yang dia dengar. Keesokan harinya, Eli bertanya kepada Samuel apa yang dikatakan Allah. Samuel, tentu saja tahu Eli tidak akan suka mendengarkan kebenaran yang telah diterimanya. Tapi Eli berpesan kepadanya, "Janganlah kausembunyikan kepadaku. Kiranya beginilah Allah menghukum engkau, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika engkau menyembunyikan sepatah katapun kepadaku dari apa yang disampaikan-Nya kepadamu itu." (1 Samuel 3:17)
Samuel muda mengulang kembali firman Allah bagi Eli, dan dengan kejadian itu ia pun memulai kariernya sebagai nabi yang menegur melalui nubuatan. Selanjutnya, dia harus menghadapi bangsa Israel yang bersikukuh meminta seorang raja duniawi: "Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu" (1 Samuel 8:18). Dia juga akan menghadapi Raja Saul yang memberontak yang melanggar perintah yang sudah jelas dari Allah: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, ... Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.... TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu." (1 Samuel 13:13-14; 15:28). Seni konfrontasi dengan mahir harus dikuasai oleh setiap pemimpin.
Dukungan Keluarga
Walaupun dalam menghadapi seseorang tentu saja membutuhkan kewaspadaan -- mengingat bahwa pemimpin yang pemberang adalah suatu kecelaan (Titus 1:7) -- ada kalanya menolak melawan dosa itu pun suatu dosa. Eli bersalah atas pelanggaran ini, dan sedihnya, bahkan Samuel pun juga tidak sepenuhnya bebas dari kesalahan ini. Standar Rasul Paulus dalam kepemimpinan menyatakan bahwa anak-anak seorang pemimpin hendaknya "hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib." (Titus 1:6)

Seorang pemimpin yang memiliki anak memiliki tanggung jawab untuk menjadi ayah yang baik. Walaupun tidak ada jaminan khusus bahwa anak-anak orang-orang Kristen secara otomatis akan diselamatkan, namun kita berhak berharap bahwa seorang pemimpin yang saleh akan membesarkan anak-anaknya di dalam "ajaran dan nasihat Tuhan" (Efesus 6:4). Samuel, sayangnya, memunyai anak-anak yang "tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan." (1 Samuel 8:3) Perbuatan jahat yang merugikan ini memberi andil bagi keinginan bangsa Israel untuk memiliki seorang raja: "Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: 'Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.'" (1 Samuel 8:4-5) Hal ini tidak otomatis membenarkan para tua-tua Israel untuk menolak Allah dan memilih seorang raja.

Sumber: http://dilasisean.blogspot.com/2012/06/kepemimpinan-spiritual.html