Anda Berada di halaman : Berita » Genjot Prestasi Di Tengah Keterbatasan
 

Layanan Utama

Berita Foto

<a href='http://lppks.org/berita_foto/85'>Jum'at Sehat LPPKS "/> <a href='http://lppks.org/berita_foto/86'>Diklat Calon Kepala Sekolah In 1 (Sahid Jaya Solo)</a> <a href='http://lppks.org/berita_foto/87'>LPPKS Appreciation 2013</a>
Prev Next

Polling

Bagaimana pendapat anda dengan diberlakukannya kurikulum 2013 sebagai sarana perubahan pendidikan yang lebih baik di indonesia ?




Genjot Prestasi Di Tengah Keterbatasan
Kategori : Pendidikan Oleh : administrator Ditulis : Rabu, 30 Mei 2012 Hits : 506

Predikat kepala sekolah teladan yang tersemat pada diri Trimo, Kepala SDN 1 Magelung,Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, seolah makin melengkapi perjalanan karirnya di dunia pendidikan . Ya, Pria kelahiran Boyolali, 28 Agustus 1970 tersebut baru-baru ini meraih prestasi gemilang di tingkat nasional.  Dia dinobatkan sebagai  juara pertama pada kompetisi kepala sekolah tingkat nasional tahun 2011.

Tentunya bukan hal yang mudah untuk menggapai sekaligus mempertahankan prestasi serupa yang sempat Ia raih pada tahun 2009 itu. Pada kompetisi tingkat nasional tersebut, dia lebih dulu harus bisa menunjukan kinerja prima menjalankan fungsi manajerial sebagai kepala sekolah di antara 35 kandidat berprestasi se-Jawa Tengah (Jateng) lainnya. Sebut saja kepala sekolah berprestasi yang berasal dari Karanganyar dan Kota Semarang, yang menduduki juara dua dan tiga tingkat Jateng. Menurut Trimo, kedua kandidat tersebut mengesankan lantaran terbukti mampu memaksimalkan fasilitas yang dimiliki sekolah dengan kemampuan manajerial yang profesional dan bermutu.

Meski begitu dewan juri yang ditunjuk sebagai tim penilai, juga tak menganggap enteng prestasi dan kiprah akademik yang dirintis Trimo, dalam hal memajukan sekolah yang memiliki fasilitas serba terbatas. Kondisi ini bagi Kepala Sekolah termuda di Kabupaten Kendal sebuah tantangan dan kesempatan membuktikan prinsipnya:  learning to love unperfect situation, using the perfect way (belajar mencintai situasi yang tak sempurna, dengan sikap sempurna).  

Dihadapan dewan juri dirinya mampu meyakinkan bahwa semangat memajukan pendidikan tak hanya untuk dirinya tapi juga dikobarkan bagi rekan kerja serta anak didiknya. Disebutkan Trimo, fasilitas maupun sarana dan prasarana yang masih minim seperti perlengkapan teknologi, komunikasi dan teknologi, ruangan perpustakaan hingga terbatasnya guru yang berijazah S1, bukanlah penghambat untuk berprestasi. Justru kondisi ini membuatnya tak henti-hentinya berinovasi agar guru, peserta didik dan orang tua murid proaktif dalam memajukan dunia pendidikan.

“Saat ini ruang perpustakaan menempati ruang kepala sekolah, sementara tempat duduk saya bergabung dengan guru lainnya. Dengan kondisi ini, saya memanfaatkannya agar komunikasi dan interaksi dengan guru makin lancar. Harus diakui mewujudkan sekolah yang sederhana inimenjadi sekolah yang lebih unggul butuh kerjasama yang solid.”

Trimo yang saat ini bertekad merampungkan pendidikan S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnnes) ini mengadopsi pemikiran Davis (2007) yang diterapkan pada lingkungan kerjanya. Trimo meyakini untuk memajukan organisasi haruslah memaksimalkan pengelolaan diri dan kerjasama tim dalam berbagai aktivitas. Menurutnya hal ini juga berarti mampu mengoptimalkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) guru. “Saya beranggapan bahwa setiap anak memiliki talenta dan tambang emas kecerdasan, demikian juga seorang guru.Hal ini membikin saya termotivasi untuk menggali talenta dan tambang emas kecerdasan yang mereka miliki.”

Itulah mengapa Trimo menempatkan “motivasi agar tak lekas puas dalam hal belajar” ini menjadi hal pertama yang ditekankan. Menurutnya, guru-guru yang selalu haus ilmu pengetahuan, hal ini akan membikin iklim pendidikan di sekolah makin hidup. Kemampuan menyerap informasi dan teknologi tidak hanya didapatkan di bangku kuliah melalui studi lanjut. Pengalaman mengikutiPendidikan dan latihan (Diklat) guna mengembangkan kompetensi, membimbing guru melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), membentuk tim work yang solid serta menjalin hubungan dengan instansi lain dalam pengembangan sekolah, juga tak kalah Penting!!

Perubahan yang dilakukan memang tak bisa berdampak instan. Berbekal keyakinan dan kesungguhan kerja tim yang ditanamkan sejak tahun 2008, kini prestasi sekolah pun bisa diperhitungkan dengan sekolah unggulan lainnya. Secara berkala pengelolaan sekolah makin tertata, peningkatan prestasi peserta didik baik akademik dan nonakademik dari tahun ke tahunpun naik signifikan.

 

Manajemen Talenta

 

Secara umum, sejak kali pertama diangkat sebagai kepala sekolah (2003-2007) pencapaian kejuaraan sekolah hanya berkisar delapan kejuaraan tingkat kecamatan dan tiga prestasikejuaraan tingkat kabupaten. Namun setelah penerapan manajemen talenta (2008-2010), prestasi sekolah meningkat menjadi 56 kejuaraan tingkat kecamatan, 21 prestasi tingkat kabupaten, dandua kejuaraan tingkat provinsi.  

Hasil pencapaian ini memang harus diimbangi dengan kemampuan tenaga pendidik yang tak bisa stagnan. Peningkatan upaya pengembangan bidang akademik dan nonakademik ini harus dilakukan, salah satunya optimalisasi kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang penelitian serta pengelolaan pembelajaran multimakna.  Jalinan kerjasama lebih luas dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) dengan berbagai instansi dinilai penting untuk mewujudkannya.

Seperti halnya kerjasama di bidang pendidikan dengan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Semarang dan Universitas Lund Swedia. Sejumlah pihak tersebut merapatkan barisan untuk mengelola kegiatan Sekolah Model Berbasis Child Right Covention (CRC). Menurut Trimo, jalinan kerjasama itu juga mendapatkan respons positif dari pemerintah pusat sehingga menjadikan SDN 1 Magelungditunjuk sebagai Rintisan Sekolah Dasar Standar Nasional (2009) dan Sekolah Dasar Penyelenggara Inklusi (2010).

 

(Trimo, M.Pd)